Filosofi Cinta Tanah Air: Ketua Umum Baja Indonesia Raya Sentil Arogansi Berkedok Demokrasi

Cinta kepada negara tidak boleh bersyarat layaknya cinta sejati. Melalui refleksi filosofis yang mendalam, Ketua Umum Baja Indonesia Raya mengajak bangsa Indonesia untuk bersyukur dan berikhtiar, sekaligus mengkritik keras arogansi, caci maki, dan ketidakadilan yang kini kerap berlindung di balik tameng 'demokrasi'.

9/19/20262 min read

BOGOR, PORTAL BAJA – Cinta seringkali dimaknai hanya sebatas relasi emosional antarmanusia. Padahal, jika ditarik pada spektrum yang lebih luas, filosofi cinta adalah fondasi paling kokoh dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Pandangan mendalam ini disampaikan oleh Ketua Umum Baja Indonesia Raya dalam refleksinya mengenai kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.

Menurutnya, cinta adalah anugerah yang mampu membawa manusia ke alam rasa yang sesungguhnya. Rasa inilah yang melahirkan keteguhan dan kekuatan luar biasa, bahkan seringkali memampukan seseorang melewati batas maksimal kemampuannya.

"Rasa cinta itulah yang menjadikan kita semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan. Ia bekerja layaknya endorfin yang terus menyalakan harapan dan cita-cita," ungkapnya. Efek empati dari cinta inilah yang membuat seseorang secara otomatis ikut bersedih saat yang dicintainya terluka, dan ikut bahagia saat yang dicintainya bersuka cita.

Analogi Pernikahan dan Kedaulatan Negara

Menariknya, tokoh utama Baja Indonesia Raya ini menganalogikan kedaulatan dan kecintaan pada negara layaknya janji suci pernikahan. Ia mengingatkan bahayanya sebuah "cinta yang bersyarat".

"Jika kamu menikahi istrimu karena kecantikannya, niscaya cintamu akan ikut memudar bersama paras cantiknya yang dimakan waktu. Jika kau memilihnya karena kebaikannya, cintamu akan berkurang seiring perubahan sikapnya. Namun, menikahlah atas dasar cinta hakiki dari Sang Maha Pencipta, maka cintamu akan kekal tanpa keraguan," paparnya.

Filosofi ini, tegasnya, sangat relevan untuk diterapkan pada relasi antara warga negara dan Tanah Air. "Begitu pula dengan Indonesia. Jika kamu mencintai Indonesia hanya karena sedang berkuasa, cintamu akan sirna saat kekuasaan itu lepas. Jika cintamu pada negeri ini karena keberlimpahan materi yang kau dapatkan, cintamu akan surut saat keberlimpahan itu hilang."

Oleh karena itu, ia menyerukan agar segenap anak bangsa mencintai Indonesia secara utuh atas dasar cinta sejati, menerima segala kekurangannya, sebagai bentuk takdir dari Sang Maha Pencipta.

Menggugat Arogansi Berkedok Demokrasi

Bagi sang Ketua Umum, perwujudan cinta tanah air sebenarnya sangat sederhana, yakni mencakup dua tindakan fundamental: Bersyukur dan Berusaha (Ikhtiar). Mensyukuri berarti merawat dan menjaga apa yang sudah dimiliki bangsa ini. Sementara berusaha berarti ikhtiar untuk terus memperbaiki apa yang dirasa masih kurang.

Namun, ia menyayangkan realita di lapangan yang jauh dari dua prinsip tersebut. Ia mengkritik tajam budaya caci maki, hinaan, dan perusakan yang ironisnya sering dilakukan atas nama demokrasi dan rakyat.

Secara beruntun, ia melontarkan gugatan retoris yang menohok:

"Demokrasi seperti apa? Rakyat yang mana? Kita bicara demi demokrasi, tapi penuh arogansi. Kita bicara demi keadilan, tapi kita sendiri berbuat ketidakadilan. Kita bicara demi hak asasi, tapi melanggar hak orang lain. Kita bicara demi persatuan, tapi justru menghukum perbedaan. Sebetulnya, apa yang sedang kita perjuangkan?"

Ia menilai fenomena "marah ke segala arah" yang terjadi saat ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat perlahan kehilangan arah dalam berbangsa dan bernegara.

Sebagai penutup, ia memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi para kaum terdidik dan elite bangsa.

"Semakin berilmu, seharusnya seseorang semakin bijak dalam bersikap dan menyampaikan pendapat. Bukan justru semakin merasa lebih hebat, arogan, dan sombong. Mari gunakan rasa cinta kita yang dahsyat ini untuk menolong sesama, melindungi yang lemah, dan mendoakan yang terbaik bagi diri, keluarga, serta umat manusia," pungkasnya.