Ketua Umum Baja Indonesia Raya: Sunda Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Tatanan Adab dan Budi Pekerti Luhur
Ketua Umum Baja Indonesia Raya kembali memberikan pandangan filosofis yang mendalam terkait pelestarian nilai-nilai budaya di tengah dinamika zaman. Kali ini, ia menyoroti miskonsepsi yang kerap terjadi di masyarakat mengenai makna "Sunda", yang menurutnya telah mengalami penyempitan makna sekadar sebagai identitas kesukuan atau wilayah.
9/19/20262 min read


Hambalang, BOGOR – Ketua Umum Baja Indonesia Raya [Wawans Sanjaya, S.I. Kom., S.H., M.H] kembali memberikan pandangan filosofis yang mendalam terkait pelestarian nilai-nilai budaya di tengah dinamika zaman. Kali ini, ia menyoroti miskonsepsi yang kerap terjadi di masyarakat mengenai makna "Sunda", yang menurutnya telah mengalami penyempitan makna sekadar sebagai identitas kesukuan atau wilayah.
Dalam keterangannya, Ketua Umum Baja Indonesia Raya menegaskan bahwa budaya pada hakikatnya adalah segala daya upaya dan sistematika yang meliputi berbagai aspek kehidupan—mulai dari kebiasaan, bahasa, tradisi, hingga etika. Oleh karena itu, "Budaya Sunda" sejatinya bermakna segala daya upaya yang membawa dampak kebaikan bagi kehidupan umat manusia secara universal.
"Sunda itu bukan semata merujuk pada etnik, suku, atau ras. Bukan pula sekadar wilayah geografis di Jawa bagian barat, apalagi hanya dikerdilkan menjadi sebatas kisah historis Pajajaran atau Prabu Siliwangi. Sunda jauh lebih luas dari itu," tegasnya.
Lebih lanjut, ia meluruskan pandangan yang keliru tentang Sunda. Menurutnya, Sunda bukanlah sekte klenik, bukan aliran kepercayaan yang menyembah benda pusaka, dan yang paling penting: Sunda bukanlah sebuah agama.
"Sunda adalah ajaran nilai-nilai kehidupan yang tersusun di dalam dada. Ia membentuk jati diri manusia sejati yang berbudi pekerti luhur, jujur, rendah hati, dan penuh tanggung jawab. Sunda adalah tatanan nilai adab, etika, dan sopan santun antar-sesama manusia. Seorang 'Jalma Sunda' harus mampu menyelaraskan hubungan yang adil dan seimbang antara dirinya dengan ciptaan Tuhan lainnya," paparnya.
Bukan Sekadar Tata Bahasa, Melainkan Tatakrama
Ketua Umum Baja Indonesia Raya juga mengkritik pandangan superfisial yang menganggap Sunda sebatas bahasa, pakaian adat, atau kewajiban menjawab rampes saat mendengar salam sampurasun. Baginya, esensi Sunda yang sesungguhnya adalah tatanan etika dan tatakrama (ngaji diri).
Dalam falsafah Sunda sejati, ajaran utamanya adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri (ngaji diri ka dirina, ngaji diri ku dirina). Ia mengutip petuah leluhur yang sarat akan makna spiritual dan psikologis:
"Sing saha nu wawuh ka dirina pasti wawuh ka Gustina" (Siapa yang mengenal dirinya, pasti mengenal Tuhannya).
"Sing saha nu wawuh ka Gustina pasti percaya ka Gustina" (Siapa yang mengenal Tuhannya, pasti beriman kepada-Nya).
"Sing saha nu wawuh ka dirina pasti percaya ka dirina" (Siapa yang mengenal dirinya, pasti memiliki kepercayaan diri).
"Sing saha nu percaya ka dirina pasti kapanggih jeung jati dirina" (Siapa yang percaya pada dirinya, pasti akan menemukan jati dirinya).
"Sing saha jalma nu ngabogaan jati dirina pasti bakal ngabogaan harga dirina, jeung pasti moal ngajual harga dirina" (Siapa yang memiliki jati diri, pasti memiliki harga diri, dan tidak akan pernah menjual harga dirinya).
Kritik Keras Terhadap Fenomena "Pamer Kesedihan"
Menyikapi fenomena sosial masa kini, tokoh nomor satu di Baja Indonesia Raya ini mengingatkan kembali tentang karakter asli Jalmi Sunda (Manusia Sunda). Karakter tersebut adalah tidak banyak tingkah (teu loba polah), tidak serakah (teu ngarawu ku siku), tidak haus pujian, dan tidak mencampuri urusan orang lain dalam konotasi negatif.
Secara tajam, ia menyoroti fenomena pamer kedermawanan yang kerap direkayasa demi konten semata.
"Ajaran Sunda itu berakar pada karesian (kebijaksanaan/kesucian), maka wajar jika orang Sunda kerap mengalah demi sebuah kebaikan. Jalma Sunda itu bukan orang yang sombong dengan hal yang tak bernilai (agul ku payung butut). Apalagi mengaku peduli pada rakyat kecil, memberi uang sambil menangis berurai air mata, tapi kameranya dari berbagai angle (sudut). Buat apa hal-hal seperti itu? Itu bukan karakter orang Sunda sejati," kritiknya tajam.
Sebagai penutup, Ketua Umum Baja Indonesia Raya mengajak masyarakat untuk kembali meresapi nilai Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh.
"Silih asih dan silih asah adalah perwujudan dari sifat Sang Pencipta, yakni Rahman dan Rahim. Sementara silih asuhadalah sifat saling mengingatkan (mepeling). Bukan sekadar mengajarkan teori kosong, melainkan menanamkan nilai-nilai, terutama nilai tanggung jawab moral bermasyarakat," pungkasnya.
Melalui pesan ini, Baja Indonesia Raya di bawah kepemimpinannya berharap bangsa Indonesia dapat kembali menggali kearifan lokal nusantara sebagai fondasi moral dalam membangun negara yang adil, beradab, dan bermartabat.
Baja Indonesia Raya
Barisan Terdepan Pergerakan Nasional Berjiwa Baja
Beranda-Tentang Kami-Berita & Kegiatan-Kontak & Pendaftaran
SEKRETARIAT PUSAT
bajaindonesiaraya@gmail.com
+62 858 222 000 08
Hambalang, Indonesia
© 2026 Baja Indonesia Raya-Baja Indonesia Raya. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
JIWA BAJA - KEDAULATAN NUSANTARA
