Merawat Akar, Menjaga Persatuan, Membangun Masa Depan: Pesan Kebangsaan Ketua Bidang Organisasi Baja Indonesia Raya

Ketua Bidang Organisasi & Keanggotaan Baja Indonesia Raya, Bondans Prajogo, S.I.Kom., M.H., merilis pesan kebangsaan. Ia mengajak generasi muda untuk kritis dan menjadikan nilai luhur Nusantara sebagai akar menghadapi tantangan era digital, bukan terjebak dalam kebencian.

Lego Pangestu Wiebsesa

9/19/20262 min read

BOGOR, PORTAL BAJA – Arus informasi yang mengalir deras di era digital sering kali membawa paradoks. Di satu sisi, dunia semakin terkoneksi, namun di sisi lain, anak bangsa kerap tercerabut dari jati diri kebudayaannya. Merespons tantangan zaman ini, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Baja Indonesia Raya, Bondans Prajogo, S.I.Kom., M.H., menyerukan konsolidasi kebangsaan bertajuk: Merawat Akar, Menjaga Persatuan, Membangun Masa Depan.

Dalam pernyataan resminya, Bondans menekankan bahwa Nusantara bukanlah sekadar catatan masa lampau, melainkan rahim peradaban bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Nusantara adalah Ibu Pertiwi kita. Tanah tempat jejak para leluhur ditanam, tempat beragam suku, bahasa, adat, dan keyakinan tumbuh dalam perjalanan sejarah yang panjang. Kita adalah anak-anaknya, sedangkan Indonesia adalah wajah baru dari perjuangan itu—sebuah rumah kebangsaan yang menyatukan keberagaman dalam satu cita-cita," tegas Bondans.

Menavigasi Arus Informasi dan Demokrasi

Sebagai pimpinan yang membidangi organisasi dan keanggotaan, Bondans menyoroti secara khusus tantangan yang dihadapi para kader dan generasi muda saat ini. Ia menilai, hiruk-pikuk media sosial sering kali gagal memberikan ruang untuk berpikir secara utuh, mengubah perbedaan pandangan menjadi kemarahan buta.

"Bangsa yang besar tidak dibangun dengan kebencian," ingatnya.

Ia tidak menafikan pentingnya sebuah kritik dalam iklim demokrasi. "Kritik tetap diperlukan, karena perbedaan pendapat adalah ciri bangsa yang sehat. Namun, kritik itu harus lahir dari pengetahuan, keberanian berpikir, dan tanggung jawab. Bukan sekadar kemarahan yang disetir oleh narasi-narasi sumir yang belum tentu kita pahami kebenarannya."

Kondisi inilah yang mendasari pentingnya organisasi seperti Baja Indonesia Raya hadir untuk mengembalikan orientasi arah bangsa, yakni kembali menengok "akar" sejarah Nusantara.

Menghidupkan Kembali Nilai, Bukan Sekadar Romantisme

Bondans menjelaskan, upaya menelusuri kembali perjalanan peradaban Nusantara bukanlah untuk hidup dalam kungkungan masa lalu, apalagi menganggap segala sesuatu dari masa lampau pasti lebih baik. Tujuannya murni untuk menggali nilai-nilai luhur yang masih sangat relevan.

Ia merinci warisan tak ternilai itu: musyawarah, gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan guru, tata krama, keberanian, kesetiaan, tenggang rasa, hingga hukum adat dan penjagaan lingkungan.

"Jangan sampai modernitas membuat kita kehilangan akar. Kita boleh melangkah maju, menguasai teknologi setinggi-tingginya, tapi kemajuan tidak boleh berarti tercerabut dari jati diri," urainya. Ia menambahkan bahwa menghidupkan budaya tidak cukup hanya lewat pemakaian baju adat atau upacara seremonial, tetapi harus tercermin dalam laku keseharian—cara kita berbicara, berdiskusi, dan menekan ego pribadi demi kepentingan bersama.

Seruan untuk Generasi Muda dan Kader Baja

Di akhir pesannya, Bondans Prajogo memberikan instruksi moral yang tegas kepada seluruh anggota Baja Indonesia Raya dan generasi muda Indonesia. Menurutnya, pemuda tidak cukup hanya dijejali dogma bahwa "Indonesia bangsa besar". Mereka harus dilibatkan secara aktif untuk membaca sejarah, memeriksa sumber, berdiskusi, dan menemukan sendiri alasan mengapa negeri ini layak dicintai.

"Mencintai bangsa bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Justru karena cinta, kita berani memperbaiki yang keliru dan menjaga yang baik," ungkap lulusan Magister Hukum ini.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk berbaris dalam satu frekuensi: mempelajari sejarah, mengenali budaya, merawat bahasa, dan menghormati adat istiadat.

"Kita tidak sedang berjalan mundur menuju masa lampau. Kita sedang mengambil akar dari masa lalu untuk menumbuhkan Indonesia di masa depan. Sebab, pohon yang menjulang tinggi senantiasa membutuhkan akar yang kuat. Nusantara adalah akar kita, Indonesia adalah rumah kita, dan masa depan bangsa adalah tanggung jawab kita bersama!" pungkas Bondans Prajogo.