Visi Pengabdian Putthra Anintyo: Bergerak Bersama BAJA untuk Indonesia Raya

"Tidak perlu terlihat hebat untuk sebuah pengakuan." Simak cetak biru pergerakan dan kolaborasi strategis BAJA di bawah komando Putthra Anintyo, S.H., M.M. dalam menjaga keutuhan negeri.

Lego Pangestu Wiebsesa

9/21/20262 min read

BOGOR, PORTAL BAJA — Organisasi pergerakan sosial kemasyarakatan, BAJA INDONESIA RAYA, kian mengukuhkan peran strategisnya di kancah nasional. Guna membangun ekosistem kolaborasi lintas sektor yang kuat, BAJA secara resmi mempercayakan posisi kunci, Bidang Kerjasama Antar Lembaga, kepada sosok analitis dan visioner, Putthra Anintyo, S.H., M.M.

Dengan perpaduan ketajaman latar belakang ilmu hukum dan keahlian manajerial tingkat magister, Putthra merumuskan strategi diplomasi institusional yang inklusif. Baginya, kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pemerintah, swasta, maupun elemen masyarakat bukanlah sekadar urusan birokrasi, melainkan instrumen untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Dalam pidato dan keterangan resminya baru-baru ini, Putthra menggugah kesadaran publik tentang esensi bernegara. “Jangan pernah lelah menjaga negeri. Karena Indonesia bukan sekadar tempat kita berpijak, tetapi tanah tempat cita-cita bangsa dititipkan,” tegasnya, memberikan fondasi filosofis bagi arah pergerakan organisasinya.

Sebagai ujung tombak sinergi kelembagaan, Putthra memastikan bahwa seluruh kerja sama yang dibangun BAJA berlandaskan pada kemurnian niat dan bebas dari kepentingan politik pragmatis. Ia memaparkan manifesto pergerakan BAJA secara gamblang, menjadikannya sebagai pedoman bagi setiap kemitraan yang akan dijalin.

"BAJA hadir bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi untuk memberikan pengabdian. Bukan untuk memecah persatuan, tetapi untuk merawat kebersamaan. Bukan sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi hadir dan bergerak memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkap Putthra.

Dalam mengawal agenda kemitraan lembaganya, Putthra meletakkan empat nilai dasar sebagai tiang pancang: persaudaraan, keberanian, integritas, dan kepedulian. Ia menyerukan kolaborasi masif kepada seluruh elemen bangsa tanpa memandang sekat golongan.

“Dengan semangat persaudaraan, keberanian, integritas, dan kepedulian, mari kita bersama menjaga Nusantara, mengawal keadilan, membela kepentingan masyarakat, serta berkontribusi untuk Indonesia yang lebih kuat dan bermartabat,” paparnya dengan lugas.

Lebih lanjut, ahli hukum dan manajemen ini meyakini bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari lompatan raksasa, melainkan dari konsistensi gerak kolektif yang terstruktur. “Satu langkah mungkin kecil, tetapi langkah yang dilakukan bersama akan menjadi kekuatan besar bagi negeri,” tambahnya.

Menariknya, di tengah tugas elitenya merajut diplomasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) di tingkat nasional, Putthra tetap memegang teguh filosofi kepemimpinan yang membumi. Ia menolak budaya glorifikasi diri dan panggung eksistensi yang kerap mewarnai dinamika organisasi modern.

Bagi Putthra, substansi dari sebuah jabatan adalah dampak nyata yang diberikan, bukan apresiasi yang diterima. Sebuah prinsip yang kini ia tanamkan kuat-kuat kepada seluruh kadernya: "Tidak perlu terlihat hebat untuk sebuah pengakuan, cukuplah terlihat sederhana namun bermanfaat untuk sesama."

Visi besar, strategi kemitraan, dan kerendahan hati seorang Putthra Anintyo ini pada akhirnya bermuara pada satu komitmen paripurna. Sebuah napas pergerakan yang kini terangkum solid dalam semboyan organisasi: “BAJA — Berdiri Teguh, Bergerak Bersama, Mengabdi untuk Indonesia Raya.”